AYO KE PERPUSTAKAAN
JL. LETJEN SUTOYO NO. 6 PONTIANAK

Gedung Perpustakaan Kalimantan Barat

Gedung yang terdiri dari 3 lantai ini didirikan tahun 1985.

Ruang Sirkulasi

Tampak Ruang Sirkulasi untuk peminjaman dan pengembalian buku.

Ruang Pelayanan Internet

Terdapat 25 Unit Komputer untuk digunakan pengunjung dalam mengakses internet secara gratis

Ruang Baca

Ruang Koleksi Buku

Tuesday, 15 May 2012

Dahsyatnya Sidik Jari

Pengarang: Ifa H. Misbach (Psikolog)
Penerbit: Jakarta, Visimedia
Tahun Terbit: 2010
Jumlah Halaman: 142
Jumlah Exemplar: 2
Jumlah Exemplar: 5
Temukan kecerdasan anda yang sesungguhnya "Hanya" dari sidik jari!
Tahukah Anda bahwa sejak lahir, setiap manusia memiliki potensi, kecerdasan, & bakat alamiah? Hal itu bisa diungkap "HANYA" dari gurat-gurat diujung jari. Fingerprint Analisys (analisis sidik jari) hadir sebagai solusi untuk mengenali bakat, potensi, & kecerdasan tersebut.
Buku ini membantu para orangtua untuk memaksimalkan potensi anak, sekaligus membantu setiap orang mengenali diri & menemukan bidang kerja yang cocok.


Monday, 14 May 2012

Kampung Tangga Emas

Pada zaman dahulu, di sebuah kampung dipinggiran Sungai Sambas kecil tinggallah seorang lelaki penangkap ikan dengan seorang istri dan beberapa orang anaknya. Mereka tergolong keluarga miskin, yang menggantungkan penghidupannya semata-mata dari menangkap ikan di sungai. Dari tangkapan ikan itu, lalu ditukarkan dengan beras, minyak dan keperluan lainnya, sedangkan sebagian lagi dibawa pulang untuk dimakan bersama keluarganya. Menggantungkan kehidupan semata-mata dari sungai, tidak terlalu membuat ia gembira, namun sering pula ia kembali ke rumah tanpa membawa beras tukarannya.
Sebagai seorang penangkap ikan yang sehari-hari senantiasa berada di sungai, hafal betul ia akan tanda-tanda yang terdapat di sungai dan di alam ini, yang sedikit-sedikit menentukan hasil kerjanya, seperti adanya petir, air sungai terasa dingin, arus yang deras dan lain-lain sebagainya. Bila terdengar petir, dapat dipastikan bahwa memancing udang tidak akan membawa hasil karena mendengar petir udang akan bersembunyi dan enggan keluar untuk mencari makan. Bila air sungai terasa dingin sekali, udangpun tidak akan memakan umpan yang diletakkan dimata pancing, begitu juga bila arus sungai begitu deras.
Suatu ketika ia mengatakan kepada istrinya untuk membuat sebuah jala, karena kalau ia mempunyai jala, maka bila air sungai tidak memungkinkan memancing udang, ia akan menjala baik pada siang ataupun malam hari. Istrinya setuju rencananya itu dan kemudian ia berusaha untuk membuat seutas jala.
Beberapa hari kemudian selesailah jala itu dianyamnya. Ia sangat gembira setelah mempunyai jala yang cukup besar. Dengan demikian setiap saat ia akan turun ke sungai menangkap udang. Pada malam hari pun, menjala ikan dapat juga dilakukannya.
Bukan saja udang, ikanpun akan dapat diperolehnya. Tetapi bila dibandingkan anataran udang dan ikan, hasil tukarannya lebih jauh memancing udang dari pada ikan. Sesungguhnya, menjala lebih berat dari pada memancing. Puluhan mata cincin yang terbuat dari timah yang digantungkan diujung jala cukup berat dan melelahkan ketika jala itu diayun dan diterbangkan ke sungai. Bahunya terasa pega. Begitulah pada permulaan menjala itu dilakukannya, tetapi setelah beberapa lama cincin timah yang bergayutan diujung jala itu sudah tidak terasa berat lagi.
Pada suatu hari, sebagaimana biasanya dengan sampan kecil itu, ia menjala di tempat yang agak jauh dari kampungnya. Sebuah galah panjang dari batang bambu tidak lupa dibawanya. Galah panjang itu digunakan untuk menyelam bila mana jala tersangkut pada saat akan ditarik. Galah itu diturunkan ke air, dan setelah ia yakin betul ujung galah itu telah tertancap didasar sungai, lalu ia terjun sambil memeluk galah itu dan melepaskan jala dari benda-benda yang menghalangi.
Setelah agak lama juga ia menebarkan jala namun tak seekor ikanpun yang tersangkut dimata jalanya. Walaupun telah terulang kali ia lakukan, namun hasilnya tetap sama saja. Hanya beberapa helai daun yang sangkut di jalanya. Tubuh mulai terasa lelah. Matahari telah berada di atas kepalanya, sinarnya mulai menyengat tubuhnya. Dibukanya bungkus nasi yang dibawanya dari rumah, lalu dimakannya. Setelah sejenak melepaskan lelah lalu mulai lagi menebarkan jalanya. Dikayuhnya perahu ke tempat yang agak dalam. Untunglah tali jalanya cukup panjang sehingga masih dapat mencapai dasar sungai. Telah beberapa kali jala itu ditebarnya, namun ketika ditarik tidak ada ikan atau udang yang sangkut. Ketika di tempat yang arus airnya begitu kuat, saat jala akan ditariknya, ternyata jala itu tidak dapat ditariknya, ada sesuatu yang menghalanginya, ada sesuatu yang menyangkut di mata jalanya. Di cobanya beberapa kali menarik jala itu ke atas namun tidak juga berhasil. Ia tidak berani menarik jalanya dengan paksa, takut nanti jalanya akan sobek atau putus. Satu-satunya jalan itu adalah membuang barang yang bersangkut di jala dan itu harus menyelam. Diturunkannya galah itu, hampir saja galah bambu itu tidak mencapai dasar sungai, ketika lelaki itu yakin bahwa galah panjang itu telah tertancap di dasar sungai lalu ia terjun. Sambil berpegangan di galah itu ia mulai menyelam memeriksa benda apa yang tersangkut di jalanya. Setelah beberapa saat kemudian, iapun muncul kembali di atas air, lalu naik ke perahu.
Dicobanya menarik jala itu ke atas. Terasa jala mulai dapat ditariknya, tidak seberat seperti semula. Dengan perlahan-lahan terus ditariknya. Ketika puncak jala mulai kelihatan, ia melihat suatu benda aneh di dalam jalanya. Benda itu menyerupai tangga kecil dan mengeluarkan cahaya terang sekali. Lelaki itu terkejut dan terpana melihat benda aneh itu. Ditariknya terus jala itu, dan ketika tangga itu menyentuh pinggir perahunya capat-cepat ditangkapnya. Benarlah bahwa benda itu sebuah tangga berwarna keemasan. Tangga emas, pikirnya dalam hati. Dengan cepat ujung taangga itu dipeganggnya. Untunglah dipegangnya dengan kuat, sebab kalau tidak tangga itu lebih panjang lagi, tetapi tangga itu tidak bergerak, dicobanya terus dan terus namun hanya beranjak sedikit saja. Dalam keadaan yang demikian, lelaki itu membayangkan suatu yang indah, ia dan keluarganya akan menjadi orang kaya. Tangga emas itu akan dijualnya dan ia tentu mendapatkan banyak uang. Makin panjang tangga itu dipunyainya, makin banyak uang yang akan didapatkannya. Ia akan menjadi ora ng yang terkaya di kampung itu. Karena ia berusaha untuk menarik tangga emas itu lebih panjang lagi, bila mungkin seluruh tangga itu akan diambilnya.
Nun, jauh di seberang sungai bertepatan sekali dengan tempat laki-laki itu menjala, ratusan bahkan ribuan ekor katak berlompatan kesana kemari, seolah ikut menyaksikan apa yang sedang dikerjakan oleh lelaki itu. Berbagai jenis katak lain berdatangan dan bergabung dengan kelompok yang telah ada disitu. Katak-katak itu berlompatan sambil mengeluarkan suara, krooot….kraaaat….kraaat…..kraaaat, suara itu makin bertambah kuat jua, kraat…..kraat…..kraat….krooot……!
Tiba-tiba turun hujan rintik-rintik. Lelaki itu berupaya untuk menaikkan tangga itu kedalam peranhunya. Sementara itu suara katak makin riuh dan nyaring juga. Sekitar tempat itu telah dipenuhi suara katak-katak yang ribuan ekor jumlahnya. Tidak, aku tidak akan “mengerat” (memotong) tangga itu, demikian tekat laki-laki itu. Walaupun ia mulai mengerti mengenai suara katak-katak itu. Rasa tamak dan bernafsu ingin memiliki tangga emas begitu kuatnya merasuki jiwa laki-laki itu, karena menurut pekirannya makin panjang tangga itu dikeluarkan dari dalam sungai tersebut, ia dapat makin kaya, sebab itulah ia semakin berusaha untuk menarik tangga tersebut. Lelaki itu seolah-olah sudah kemasukan setan “ingin kaya” dan bergelut dengan tangga itu. Cahaya terang, yang dipancarkan dari dalam sungai menyebar dan menembus rintik-rintik hujan. Diseberang sungai berbagai jenis katak yang ribuan ekor banyaknya terus menerus mengeluarkan suaranya. Kroot….kraaat…..kraaat……………. sambil melompat-lompat.
“Masa bodoh, hei Katak-katak celaka, apa pedulimu menyuruhku mengerat (memotong) tangga ini. Tangga itu sudah menjadi milikku, terserah padaku. Pecah sekalipun perutmu menyuruhku, tangga ini tidak akan ku kerat….!” begitu teriakan laki-laki itu membalas suara katak-katak di seberang sungai itu. Ia pun semakin bernafsu untuk menarik tangga itu sepanjang mungkin. Perahu kecil itu mulai bergerak ke tengah sungai. Makin panjang tangga itu muncul ke permukaan air. Makin terang cahaya yang dikeluarkannya dan makin nyaring pula suara katak-katak itu. Seperti memekakkan telinga yang mendengarnya. Ketika tangga itu terangkan beberapa puluh sentimeter dan makin panjang juga laki-laki itu langsung memeluk tangga tersebut. Perahunya mulai miring ke samping dan tiba-tiba terdengar bunyi seperti barang terjatuh ke sungai dengan mengeluarkan suara cukup kuat, kemudian hilang kembali.
Perhau kecil dan laki-laku itu tidak kelihatan pula, air sungai di tempat itu berputar-putar dengan derasnya dan membuat bentuk seperti kerucut terbalik. Disitu seperti berbentu sebuah sujur yang sangat dalam. Hujan rintik sudah berhenti. Alam bening, tenang. Suara katak yang riuh rendah kini hilang sama sekali. Ribuan ekor katak-katak itu pergi entah kemana. Matahari telah bergerak ke arah barat, dengan cahanyanya mulai kemerah-merahan.
Demikian lah peristiwa yang menimpa laki-laki itu. Keinginannya menjadi orang yang kaya di kampung itu dengan memiliki tangga emas dimaksudkan tidak tercapai dan menjadikan ia lupa segala-galanya. Dengan tidak memperdulikan isyarat dan tanda-tanda disekelilingnya, suara katak yang menyuruhnya memotong (bahasa daerah setempat “mengerat”) tangga itu tidak diindahkan. Tempat kejadian ini dinamai KAMPUNG TANGGA EMAS terletak sekitar 5 Km dari Kota Sambas sekarang, yaitu pinggiran Sungai Sambas Kecil ke arah barat.

Batu Ballah Batu Betangkup

Batu Ballah
Batu Betangkup,
Tangkupkan aku,
Anggan kakiku

Aku kemponan
Tallor Timbakol

O…Mak, O…..Mak
Ballik Udde’
Hari dah malam
Ade’ na’ nyussu

Begitulah syair dan lagu berirama pilu yang hingga kini selalu didendangkan Ketika Sang Ibu mengiringi si Dodol yang sampai waktunya akan tidur.
Didalam Syair itu dengan mudah disimak bahwa Batu Ballah itu adalah jelmaan Dewa yang mengerti akan rintihan hati seorang Ibu yang pasrah berpisah dengan kedua anak kesayangannya karena terlalu besar “rasa kepinginnya” untuk menikmati lezatnya telor timbakul di hari itu.
Lalu terjadilah dialog melalui syair yang dilantunkan gadis kecilnya, satu-satunya kakak si Bungsu yang tak henti-hentinya menangis. Oh, Mak, Oh Mak, ampunkanlah dan maafkanlah kami yang manja. Kembalilah kepada kami, Mak. Jangan dekati Batu Ballah itu. Kasihanilah adik kelaparan susu menangis sedari tadi. Oh Mak, Oh Mak, kemarilah, jauhilah Batu Ballah itu. Kami takut mendekat ke sana.
Begitulah mengawali cerita rakyat Pantai Tanjung Batu yang terkenal itu. Disana pernah hidup tiga anak manusia, yaitu seorang ibu yang sudah menjanda, bernama Mak Risah dengan kedua anaknya yang sulung perempuan bernama Long Ijun dan yang bungsu laki-laki bernama Su Pisok.
Mereka hidup berkasih-kasihan dan senantiasa bertawakkal menerima kadar yang serba kekurangan sejak ditinggal pergi sang ayah yang sudah lama tiada. Ditempat yang jauh dari keramaian itulah keluarga kecil ini menjalani sisa-sisa hidup dalam penderitaan. Tertutup kepala terbuka kaki, tertutup kaki terbuka kepala. Kesulitan yang tidak bertepi membuat Mak Risah kadang-kadang putus asa. Terlebih lagi si Bungsu selalu saja menangis, sementara Long Ijun yang sangat menyayanginya hampir kehabisan waktu membantu ibunya selain menjaga dan merawat si manja yang hanya seorang itu.
Pada suatu hari Mak Risah berkata kepada putri sulungnya itu. “Nak! Jaga adikmu baik-baik, mak hendak pergi mencari telur Timbakul.” Setelah itu iapun pergi ke bibir pantas yang airnya sedang kering. Kebetulan banya sekali ikan Timbakul dihari itu. Hanya sayangnya belum kelihatan Timbakul yang bertelur. Namun terhibur sejenak hati Mak Risah melihat Timbakul yang berkejar-kejaran karena ikan tiu dapat hidup di dua alam. Dipantai yang sekali-kali dilebur ombak tampak jelas ia berjalan dengan sirip dan ekornya dengan dua matanya yang besar dan menonjol.
Setelah mendapat telor yang cukup banyak untuk mereka bertiga lalu pulanglah Mak Risah ke pondok yang reot, didapatinya kedua anaknya sedang asik bermain. Rupanya mereka kehabisan kayu bakar yang biasanya di cari ijun dan pisok sambil bermain, demikianpun garam dan kunyit untuk merempahi telor yang diperolehnya itu. Ketika itu iapun berpesan kepada putrinya, “Mak ke hutan dulu mencari kayu. Telor sudah Mak rebus, kalau sudah masak supaya diangkat, nanti baru diberi rempah dan kita makan bersama,” katanya. Long Ijun mengangguk sambil menepuk-nepuk paha adiknya dalam gendongan. Setelah itu Mak Risah pun pergi. Sebetulnya ia sangat lapar dan letih, tetapi siapa lagi yang mengerjakan itu semua?
Sepeninggal maknya, Su Pisok pun minta makan karena sejak pagi belum merasakan apapun juga belum sempat menyusu pada Mak nya. Long Ijun ingat pesan Mak nya sebab telur belum diberi rempah. Akan tetapi karena adiknya tak henti-hentinya menangis, ibalah hatinya. Lagi pula apalah dayanya. Ia hanya seorang gadis kecil yang tidak dapat berbuat banyak. Tambahan lagi perutnya sendiri terasa menggigit-gigit kelaparan. Hari sudah tinggi, mak yang ditunggu-tunggu belum lagi pulang. Karena tidak tahan melihat adiknya yang tak henti-hentinya menangis, lalu diambilnya panci yang terjerang diatas tungku itu. Melihat telur berwarna kuning menusuk hidung, mula-mula diambilnya sedikit, lama kelamaan sang kakak pun turut merasakan. Keadaan dalam kelaparan itu membuat Long Ijun lupa pesan maknya dan khilaf tidak meninggalkan untuk maknya walau sedikitpun. Selesai makan keduanya mengantuk lalu tertidur.
Sepulangnya Mak Risah dari mencari kayu dah rempah, betapa ia sangat terkejut melihat telur Timbakul yang tidak lagi tersisa. “Sampai hati kau Jun, Mak tidak disisakan sedikitpun,” katanya mengeluh sambil duduk berpangku tangan di bendul pintu. “Su Pisok menangis terus Mak. Sejak pagi kelaparan susu. Ijun pun juga lapar Mak, sampai lupa meninggalkan barang sedikit untuk Mak”. “
“Tapi Mak pun juga lapar sekali, sedari pagi belum merasakan apa-apa. Mak mengira sepulang mencari kayu, kita makan bersama-sama.”
Long Ijun sedih sekali mendengar uraian Mak itu. Sekarang apa yang harus dimasak Mak lagi, telur Timbakul sudah habis. Hendak mencari lagi, air laut sudah pasang dan ikan Timbakul sudah pergi ke tempat yang jauh mencari pantai berlumpur lain. “Maafkan kami Mak, kami telah berdosa….”
Mak Risah menangis pilu, sedih sekali “Sudah lah Jun, Mak sudah kemponan….” katanya teramat sedih karena keinginan dan harapannya telah putus sehingga kemponan. Ia bangkit perlahan, kemudian berjalan lamban menuju Tanjung Batu. Jalannya kemudian semakin cepat, Akhirnya ia meraung, menangis sambil berlari. Sesampainya di mulut Batu Ballah, ia pun memohon :
Batu Ballah
Batu Betangkup,
Tangkupkan aku
Anggan kakiku,
Aku Kemponan
Tallor Timbakul
Toop…. bunyi suara Batu Ballah menangkup kedua kaki Mak Risah. Mendengar suara itu Long Ijun pun menangis sambil berlari menggendong Pisok yang juga menangis.
“Oh Mak, Ballik Uddek.
Hari dah malam, Adek nak nyussu”
“Tidak, aku tak mau pulang. Kamu berdua jahat, tak sayang dengan Mak,” jawab Mak Risah sementara kedua kakinya sudah tertangkup Batu Ballah, lalu ia memohon lagi.
“Batu Ballah, Batu Betangkup.
Tangkupkan aku, Anggan parrutku
Aku Kemponan, Tallor Timbakul”
Demikianlah seterusnya sehingga ditangkup bagian perutnya, lalu lehernya. Melihat itu Long Ijun memberanikan diri menyelamatkan Maknya, tapi terlambat. Yang didapatkannya hanya rambut maknya yang panjang terurai.
“Oh Mak, Oh Mak. Tunggu lah Kami. Tega nian mak tinggalkan kami, adik kecil kelaparan susu”
“Oh Mak, Oh Mak. Hari sudah malam, pulanglah Mak.”
Tapi Mak Risah Sudah tak mau mendengar lagi.