AYO KE PERPUSTAKAAN
JL. LETJEN SUTOYO NO. 6 PONTIANAK

Gedung Perpustakaan Kalimantan Barat

Gedung yang terdiri dari 3 lantai ini didirikan tahun 1985.

Ruang Sirkulasi

Tampak Ruang Sirkulasi untuk peminjaman dan pengembalian buku.

Ruang Pelayanan Internet

Terdapat 25 Unit Komputer untuk digunakan pengunjung dalam mengakses internet secara gratis

Ruang Baca

Ruang Koleksi Buku

Showing posts with label Buku. Show all posts
Showing posts with label Buku. Show all posts

Friday, 2 May 2014

E-Book : Buku Informasi Taman Nasional Betung Kerihun



Sebagai salah satu objek wisata dan kawasan konservasi potensial di Indonesia, perlu diketahui tentang Informasi TAMAN NASIONAL BETUNG KERIHUN. Salah satu upaya yang dilakukan dengan menyusun buku  tentang informasi seputar Taman Nasional Betung Kerihun. Buku yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun Departemen Kehutanan Republik Indonesia, yang kemudian di Digitalisasi oleh Unit Pelayanan Perpustakaan Prov.Kalimantan Barat untuk dapat menjadi informasi lengkap tentang potensi yang ada di Taman Nasional Betung Kerihun.

Tuesday, 25 February 2014

Mengenal Islam Melalui Eropa

B
Buku ini adalah catatan perjalanan atas sebuah pencarian. Pencarian cahaya Islam di Eropa yang kini sedang tertutup awan saling curiga dan kesalahpahaman. Untuk pertama kalinya dalam 26 tahun, aku merasakan hidup di suatu negara dimana Islam menjadi minoritas. Pengalaman yang makin memperkaya spiritualku untuk lebih mengenal Islam dengan cara yang berbeda. 

Tinggal di Eropa selama 3 tahun adalah arena menjelajah Eropa dan segala isinya. Hingga akhirnya aku menemukan banyak hal lain yang jauh lebih menarik dari sekedar Menara Eiffel, Tembok Berlin, Konser Mozart, Stadion Sepakbola San Siro, Colloseum Roma, atau gondola gondola di Venezia. Pencarianku telah mengantarkanku pada daftar tempat-tempat ziarah baru di Eropa. Aku tak menyangka Eropa sesungguhnya juga menyimpan sejuta misteri tentang Islam. 

Eropa dan Islam. Mereka pernah menjadi pasangan serasi. Kini hubungan keduanya penuh pasang surut prasangka dengan berbagai dinamikanya. Aku merasakan ada manusia-manusia dari kedua pihak yang terus bekerja untuk memperburuk hubungan keduanya.

Pertemuanku dengan perempuan muslim di Austria, Fatma Pasha telah mengajarkanku untuk menjadi bulir-bulir yang bekerja sebaliknya. Menunjukkan pada Eropa bulir cinta dan luasnya kedamaian Islam. Sebagai Turki di Austria, Ia mencoba menebus kesalahan kakek moyangnya yang gagal meluluhkan Eropa dengan menghunus pedang dan meriam. Kini ini ia mencoba lagi dengan cara yang lebih elegan, yaitu dengan lebarnya senyum dan dalamnya samudra kerendahan hati.

Aku dan Fatma mengatur rencana. Kami akan mengarungi jejak-jejak Islam dari barat hingga ke timur Eropa. Dari Andalusia Spanyol hingga ke Istanbul Turki. Dan entah mengapa perjalanan pertamaku justru mengantarkanku ke Kota Paris, pusat ibukota peradaban Eropa.

Di Paris aku bertemu dengan seorang mualaf, Marion Latimer yang bekerja sebagai ilmuwan di Arab World Institute Paris. Marion menunjukkan kepadaku bahwa Eropa juga adalah pantulan cahaya kebesaran Islam. Eropa menyimpan harta karun sejarah Islam yang luar biasa berharganya. Marion membukakan mata hatiku. Membuatku jatuh cinta lagi dengan agamaku, Islam. Islam sebagai sumber pengetahuan yang penuh damai dan kasih.

Museum Louvre, Pantheon, Gereja Notre Dame hingga Les Invalides semakin membuatku yakin dengan agamaku. Islam dulu pernah menjadi sumber cahaya terang benderang ketika Eropa diliputi abad kegelapan. Islam pernah bersinar sebagai peradaban paling maju di dunia, ketika dakwah bisa bersatu dengan pengetahuan dan kedamaian, bukan dengan teror atau kekerasan

Perjalananku menjelajah Eropa adalah sebuah pencarian 99 cahaya kesempurnaan yang pernah dipancarkan oleh Islam di benua ini. Cordoba, Granada, Toledo, Sicilia dan Istanbul masuk dalam manifest perjalanan spiritualku selanjutnya.

Saat memandang matahari tenggelam di Katedral Mezquita Cordoba, Istana Al Hambra Granada, atau Hagia Sophia Istanbul, aku bersimpuh. Matahari tenggelam yang aku lihat adalah jelas matahari yang sama, yang juga dilihat oleh orang-orang di benua ini 1000 tahun lalu. Matahari itu menjadi saksi bisu bahwa Islam pernah menjamah Eropa, menyuburkannya dengan menyebar benih-benih ilmu pengetahuan, dan menyianginya dengan kasih sayang dan toleransi antar umat beragama.

Akhir dari perjalananku selama 3 tahun di Eropa justru mengantarkanku pada titik awal pencarian makna dan tujuan hidup. Makin mendekatkanku pada sumber kebenaran abadi yang Maha Sempurna.



Tuesday, 2 July 2013

ABRAHAM SAMAD

Satu lagi tohoh nasional yang bukunya diterbitkan dan telah terdapat di Perpustakaan Provinsi Kalimantan Barat.

SINOPSIS BUKU - 
Abraham Samad : Doa Tulus Ibunda Hingga Perang Besar Melawan Korupsi
SETIAP tokoh ada masanya dan setiap masa ada tokohnya. Abraham Samad, adalah satu di antara sedikit tokoh Indonesia masa kini yang masih concern dalam penegakan hukum. Dia punya kedudukan sangat penting dan strategis: Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), lembaga yang paling ditakuti di negeri ini. Di dalam buku ini, Anda akan mengetahui bagaimana track record Samad, ancaman-ancaman yang dihadapinya, rencananya ke depan, dan juga hal-hal pribadi yang belum pernah ada di media. Beruntung kami mendapat kesempatan khusus mewawancarainya di tengah-tengah kesibukannya. Selamat membaca.


***

"Abraham Samad adalah seorang ksatria dengan badik terhunus memimpin perang rakyat semesta melawan korupsi. Tak tanggung, tak kepalang, Samad mewakafkan hidupnya untuk membersihkan Indonesia dari korupsi, sebuah sikap yang teramat langka di negara yang sedang dikepung koruptor dari legislatif, eksekutif, yudikatif, dan pengusahanya."
— Fadjroel Rachman Koordinator Koalisi Masyarakat Sipil Anti Korupsi/KOMPAK 

"Terlepas dari jalan panjang yang masih harus dibuktikannya, gebrakan Abraham Samad dalam pemberantasan korupsi sebagaimana tergambar dalam buku ini sangat penting untuk menginspirasi anak-anak muda, khususnya, dengan prinsip 'sekali berarti sudah itu mati'.''
— Prof. Dr. R. Siti Zuhro, MA Peneliti Senior LIPI

The 360 Leader

Synopsis
Membuat pemimpin mampu mengatasi tantangannya, serta terampil untuk bisa menjadi pemimpin 360, yang berpengaruh ke semua arah

Table of Contents
43sensation

Details
ISBN:43sensation
Author:JOHN C MAXWELL
Language:INDONESIA
Type:SOFT COVER
No. of Pages:416
Dimensions (cm):15 x 23

Saturday, 2 June 2012

Kumpulan kisah Inspiratif 2


Sejak awal kehadirannya, Kick Andy langsung mencuri perhatian penonton televisi. Mengolah cerita yang biasa hadir di sekeliling kita menjadi sebuah tayangan yang inspiratif dan membangkitkan semangat baru. Kick Andy tidak hanya mengajak untuk menonton dengan hati, tetapi juga memberi dan berbagi untuk sesama.
Melalui kumpulan Kisah Inspiratif 2, Kick Andy kembali membagi 24 kisah yang pernah ditayangkan. Dengan semangat yang sama buku ini disajikan untuk menginspirasi para pembacanya, melahirkan semangat baru, dan motivasi untuk berkarya lebih baik.
Pengarang: Adiyanto
Penerbit: Yogyakarta, PT. Bentang Pustaka
Tahun Terbit: 2010
Jumlah Halaman: 280
Jumlah Exemplar: 2
Jumlah Exemplar: 8

Tuesday, 15 May 2012

Dahsyatnya Sidik Jari

Pengarang: Ifa H. Misbach (Psikolog)
Penerbit: Jakarta, Visimedia
Tahun Terbit: 2010
Jumlah Halaman: 142
Jumlah Exemplar: 2
Jumlah Exemplar: 5
Temukan kecerdasan anda yang sesungguhnya "Hanya" dari sidik jari!
Tahukah Anda bahwa sejak lahir, setiap manusia memiliki potensi, kecerdasan, & bakat alamiah? Hal itu bisa diungkap "HANYA" dari gurat-gurat diujung jari. Fingerprint Analisys (analisis sidik jari) hadir sebagai solusi untuk mengenali bakat, potensi, & kecerdasan tersebut.
Buku ini membantu para orangtua untuk memaksimalkan potensi anak, sekaligus membantu setiap orang mengenali diri & menemukan bidang kerja yang cocok.


Monday, 14 May 2012

Life Without Limits

Pengarang: Nick Vujicic
Penerbit: Jakarta, Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2011
Jumlah Halaman: 253
Jumlah Exemplar: 2
Jumlah Exemplar: 3
Life Without Limits adalah buku inspiratif yang ditulis oleh orang biasa. Nick Vujicic, yang terlahir tanpa lengan dan tungkai, mengatasi cacat tubuhnya dengan menjalani kehidupan yang tidak hanya mandiri, tapi juga kaya dan penuh menjadi teladan bagi siapa pun yang mencari kebahagiaan abadi. Dia sekarang merupakan pembicara motivasi yang sukses secara internasional. Pesan utamanya: tujuan terpenting siapapun adalah menemukan tujuan hidup, terlepas dari kesulitan apa pun atau rintangan apa pun yang sepertinya mustahil dilalui.
Nick menceritakan cacat fisik dan pertempuran emosi yang dialaminya saat berusaha mengatasi keadaannya semasa kecil, remaja, dan menjelang dewasa muda. "Untuk waktu yang terasa sangat lama dan sepi, aku bertanya-tanya apakah ada orang lain dunia yang seperti aku, serta apakah ada tujuan lain dalam kehidupanku selain rasa sakit dan terhina." Dia berbagi tentang bagaimana imannya terhadap Tuhan menjadi sumber kekuatan utamanya dan menjelaskan bahwa begitu dia menemukan tujuan kehidupan - menginspirasi orang lain untuk menjadikan kehidupan mereka serta dunia lebih baik- dia mendapatkan kepercayaan diri untuk membangun kehidupan tanpa batas yang produktif dan membawa berkah.
Nick Vujicic adalah pembicara motivasi dan direktur organisasi nirlaba Life Without Limbs. Dia lama bermukim di Australia dan kini tinggal di Selatan California.

Negeri Lima Menara

Kisah ini diawali lima sahabat yang sedang mondok di sebuah pesantren, dan kemudian bertemu lagi ketika mereka sudah beranjak dewasa. Uniknya, setelah bertemu, ternyata apa yang mereka bayangkan ketika menunggu Azhan Maghrib di bawah menara masjid benar-benar terjadi. Itulah cuplikan cerita novel laris Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi yang menjadi topik Kick Andy kali ini.

Ahmad Fuadi yang berperan sebagai Alif di novel itu berkisah, ia tak menyangka dan tak percaya bisa menjadi seperti sekarang ini. Pemuda asal Desa Bayur, Maninjau, Sumatera Barat itu adalah pemuda desa yang diharapkan bisa menjadi seorang guru agama seperti yang diinginkan kedua orangtuanya. Keinginan kedua orangtua Fuadi tentu saja tidak salah. Sebagai “amak” atau Ibu kala itu, menginginkan agar anak-anaknya menjadi orang yang dihormati di kampung seperti menjadi guru agama.

“Mempunyai anak yang sholeh dan berbakti adalah sebuah warisan yang tak ternilai, karena bisa mendoakan kedua orangtuanya mana kala sudah tiada,” ujar Ahmad Fuadi mengenang keinginan Amak di kampung waktu itu.

Namun ternyata Fuadi alias Alif mempunyai keinginan lain. Ia tak ingin seumur hidupnya tinggal di kampung. Ia mempunyai cita-cita dan keinginan untuk merantau. Ia ingin melihat dunia luar dan ingin sukses seperti sejumlah tokoh yang ia baca di buku atau mendengar cerita temannya di desa. Namun, keinginan Alif tidaklah mudah untuk diwujudkan. Kedua orangtuanya bergeming agar Fuadi tetap tinggal dan sekolah di kampung untuk menjadi guru agama. Namun berkat saran dari ”Mak Etek” atau paman yang sedang kuliah di Kairo, akhirnya Fuadi kecil bisa merantau ke Pondok Madani, Gontor, Jawa Timur. Dan, disinilah cerita kemudian bergulir. Ringkasnya Fuadi kemudian berkenalan dengan Raja alias Adnin Amas, Atang alias Kuswandani,Dulmajid alias Monib, Baso alias Ikhlas Budiman dan Said alias Abdul Qodir.

Kelima bocah yang menuntut ilmu di Pondok Pesantren Gontor ini setiap sore mempunyai kebiasaan unik. Menjelang Azan Maghrib berkumpul di bawah menara masjid sambil melihat ke awan. Dengan membayangkan awan itulah mereka melambungkan impiannya. Misalnya Fuadi mengaku jika awan itu bentuknya seperti benua Amerika, sebuah negara yang ingin ia kunjungi kelak lulus nanti. Begitu pula lainnya menggambarkan awan itu seperti negara Arab Saudi, Mesir dan Benua Eropa.

Melalui lika liku kehidupan di pesantren yang tidak dibayangkan selama ini, ke lima santri itu digambarkan bertemu di London, Inggris beberapa tahun kemudian. Dan, mereka kemudian bernostalgia dan saling membuktikan impian mereka ketika melihat awan di bawah menara masjid Pondok Pesantren Gontor, Jawa Timur.

Belajar di pesantren bagi Fuadi ternyata memberikan warna tersendiri bagi dirinya. Ia yang tadinya beranggapan bahwa pesantren adalah konservatif, kuno, ”kampungan” ternyata adalah salah besar. Di pesantren ternyata benar-benar menjujung disiplin yang tinggi, sehingga mencetak para santri yang bertanggung jawab dan komitmen. Di pesantren mental para santri itu ”dibakar” oleh para ustadz agar tidak gampang menyerah. Setiap hari, sebelum masuk kelas, selalu didengungkan kata-kata mantera ”Manjadda Wajadda” jika bersungguh-sungguh akan berhasil.

”Siapa mengira jika Fuadi yang anak kampung kini sudah berhasil meraih impiannya untuk bersekolah dan bekerja di Amerika Serikat? Untuk itu, jangan berhenti untuk bermimpi,”

Dapat Kan Buku ini di Perpustakaan Kalimantan Barat